Oase

arab_desert

Menyikapi Cobaan

Jika saya sedang dirundung masalah, saya suka teringat dengan apa yang saya pikirkan ketika berada di keramaian dan melihat orang berlalu-lalang. Ketika saya melihat orang-orang yang berjalan tersebut, renungan saya mengatakan bahwa masing-masing orang tersebut adalah sebuah cerita panjang. Masing-masing kepala adalah batok tempat berbagai pikiran dan perasaan berkecamuk. Dan kesadaran bahwa setiap orang memiliki persoalan hidup sedikit memberikan angin spoi yang agak meringankan.

Renungan seperti ini juga saya dapatkan ketika taqdir Allah, empat tahun lalu, menempatkan saya di sebuah kota asing sendirian. Saat daftar kuliah di Al-Azhar, saya memilih Fakultas Sejarah dan Peradaban di Al-Azhar Pusat (Kairo). Akan tetapi takdir memberikan jalan lain. Saya harus kuliah di Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab jurusan Syari’ah Islam di sebuah propinsi tempat salah satu cabang Universitas Al-Azhar berada, bernama Damietta. Yang membuat saya sedih adalah bahwa di propinsi tersebut tidak ada orang Indonesia.

Jalan pilihan taqdir ini lumayan membuat saya terpukul sebelum kelak memberi saya banyak hikmah. Saya yang sejak di Indonesia tidak pernah jauh dari keluarga, saat itu harus jauh dengan mereka. Dan ternyata tidak cukup sampai disitu, saya juga dipisahkan dengan teman-teman yang sebelumnya saya harap dapat mengobati kerinduan saya kepada keluarga di tanah air. Tahun pertama itu saya benar-benar sendiri. Sebenarnya masih ada dua orang teman Indonesia yang terdampar di kota bagian utara Mesir itu, kami tinggal satu apartemen, tetapi mereka sering tidak di Damietta, meninggalkan saya sendirian di rumah.

Saat itu saya merasakan berbagai bentuk kesengsaraan hidup sendirian. Mulai dari kebingungan ketika hendak makan sampai terpenjara di luar rumah karena kunci hilang. Pernah juga ketika saya sendirian itu, Allah menguji saya dengan bisul yang tumbuh di beberapa bagian tubuh saya. Yang paling berkesan satu bisul tumbuh pas di kelopak mata, hingga saya benar-benar menangis darah dan nanah ketika bisul itu pecah. Semua itu saya alami ketika teman-teman serumah tidak ada, berminggu-minggu. Tetapi al-hamdulillah, saya bisa menerima semua itu tanpa ada kekecewaan yang mendalam. Justru yang membuat saya lebih tersiksa adalah ketika kesepian mengundang sebuah perasaan terasing, perasaan terbuang. Ketika saya merasa kehilangan kontak dengan dunia luar. Dengan keluarga di tanah air, juga dengan teman-teman di Kairo. Ketika itu saya benar-benar stres dan frustasi. Hingga belajar pun terasa sulit. Dan waktu itulah puncak kesengsaraan yang saya rasakan.

Tetapi, kesadaran bahwa setiap orang punya persoalan; setiap manusia punya jatah ujiannya masing-masing, saya jadi bisa menerima semua yang saya alami tersebut dan bertekad untuk bisa melewati ujian tersebut. Kesadaran ini saya dapatkan ketika menerima kabar, seorang teman dekat saya kehilangan tas beserta isinya, termasuk passpor yang menjadi isi tas tersebut. Kehilangan passpor adalah kehilangan nyawa, begitu kakak kelas ketika itu mengopinikan mengingat pentingnya dokumen negara itu. Artinya kalau kita tidak ada passpor kita bisa dipulangkan ke tanah air, padahal menginjakan kaki di negeri Kinanah itu saja belum genap satu tahun. Apa jadinya kalau ternyata kita benar-benar dipulangkan?

Saya merasakan beratnya musibah yang menimpa teman saya itu dan karenanya saya melihat masalah besar saya mulai mengerut. Saya jadi menyadari bahwa setiap orang diuji dengan cobaannya masing-masing. Bahwa kalau saya tidak diuji dengan perasaan keterbuangan saya mungkin akan diuji dengan kehilangan passpor. Bahkan bukan mustahil kalau saya diuji dengan cobaan-cobaan yang jauh lebih berat dari semua itu, dengan meninggalnya ayah atau ibu seperti banyak dialami oleh teman-teman, misalnya. Atau dengan dideportasi seperti pernah terjadi pada beberapa kawan yang dicurigai punya keterkaitan dengan gerakan Islam lokal. Pokoknya segala bentuk cobaan bisa terjadi.

Hingga akhirnya renungan yang saya lakukan mengatakan bahwa daripada susah hati berharap tidak diuji dengan kesengsaraan yang saya alami lebih baik saya hadapi saja dan lewati ujian ini dengan sepenuh hati. Toh kalau ternyata saya benar-benar tidak diuji dengan cobaan itu saya pasti diuji dengan cobaan yang lainnya.

Dari sini, saya mengambil pelajaran yang sangat besar dan berharga. Bahwa dalam kamus hidup ini jangan pernah ada kata mundur dan putus asa. Karena cobaan yang kita hadapi adalah ujian yang paling pas yang Allah pilihkan untuk kita. Kita yakin Allah tidak pernah membebani hambaNya di luar kemampuannya (QS.2:286). Sementara kata putus asa adalah kata yang identik dengan kekafiran (QS.12:87). Wallahu a’lam

(Eramuslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.