Artikel

Berbuat yang Terbaik

Catatan: Tarbawi edisi 36 Rabiul Awal 1423 H.

ibeaut10.jpgBerbuat yang terbaik merupakan kunci sukses dan kebahagiaan
seseorang. Ia sering diistilahkan dengan berpikir, bersikap dan bertindak secara professional. David J. Schwartz dalam bukunya `The Magic of Thinking Big’ menasehatkan, agar sebelum kita bertindak dan berbicara, atau berfikir dan bersikap, kita koreksi apakah itu semua sama dengan apa yang dilakukan oleh pemikir dan orang yang berjiwa besar. Jika tidak, ubahlah. Itu semua akan menunjukkan apakah kita
tergolong kepada kelompok kelas profesional atau kelompok orang yang bernilai rendah.

Dalam perspektif ajaran Islam, berbuat yang terbaik merupakan indikator seorang hamba yang mencari kecintaan Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang apabila melakukan sesuatu, dia melakukan dengan sebaik-baiknya.” Maka adalah penting bagi kita melakukan
muhasabah diri, apakah dalam amal ibadah, misalnya, kita sudah melakukan yang terbaik?Apakah kita sudah mengoptimalkan kekhusyu’an dalam sholat kita? Apakah tilawah Al-Quran kita hanya sekedar mencapai target khatam dalam sebulan, atau sudahkah kita mentadaburinya dari apa yang telah kita baca, untuk selanjutnya kita berazam untuk mengamalkannya.

Sudahkah kita mengoptimalkan puasa kita agar mencapai tingkatan bukan sekedar menahan makan dan minum dan hubungan suami istri, tetapi juga menahan lidah untuk tidak membicarakan saudara yang lain? Sudahkah kita mempuasakan hati dan anggota tubuh yang lain dari kesia-siaan? Kaitannya dengan pengorbanan, sudahkah kita mengorbankan yang terbaik dari apa yang ada pada diri kita untuk Allah dan agama-Nya? Ataukah
selama ini kita hanya memberikan yang tersisa dari harta, waktu, umur dan jiwa kita?

Kaitannya dengan mu’amalah, berbuat yang terbaik berarti menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketika kita berbicara atau bergurau, kita koreksi apakah Rasulullah juga berbicara dan begurau seperti ini, ataukah kita sudah masuk dalam laghwun (kesia-siaan) dan berlebih-lebihan. Berbuat yang terbaik juga harus diwujudkan dengan menberikan pertolongan kepada orang lain, bukan hanya pandai meminta tolong. Setiap mukmin semestinya bisa dengan senang hati dan tanggap menawarkan bantuan kepada saudaranya. Menumbuhkan sifat itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan sendiri).

Berbuat yang terbaik juga dalam hal menunaikan amanah dan janji, menepati dan menghargai waktu, ketaatan pada pimpinan, juga dalam menghormati dan mengahargai lawan bicara. Tentang hal ini indah sekali Buya Hamka menggambarkan mengenai sosok seorang sahabatnya, “Dia seorang sahabat yang baik, yang tidak pernah membanggakan dirinya, tawadhu’ dan tidak memonopoli pembicaraan . Dia tumpukan sepenuh perhatian untuk mengambil hikmah dan manfaat dari pembicaraan orang lain. Dia berbicara hanya pada saat perlu dan menjawab pertanyaan kalau dia mampu.”

Berbuat yang terbaik harus menjadi motivasi bagi setiap pribadi muslim, bukan sebatas mencari cinta dan ridho Allah. Tapi lebih dari itu dengannya kita juga membahasakan diri kita kepada orang lain beginilah Islam, begini seorang mukmin bermuamalah, begini seorang dai berbicara dan tersenyum, begini indahnya persaudaraan dalam
islam, inilah contoh keluarga Islami.

Berbuat yang terbaik adalah cermin syamilnya pemahaman seseorang terhadap Islam, karena kita sudah terlanjur digelari Allah sebagai ummat yang terbaik. Ummat yang terbaik tidak akan berpikir, bersikap, dan bertindak yang bernilai rendah, namun sebaliknya, akan selalu memberikan yang terbaik bagi ummat dan agamanya.

Pemimpin yang Saleh
Oleh : Amir Faishol Fath

ik11fa.jpgKhalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayah merupakan contoh pemimpin yang saleh. Dikisahkan, pada hari pertama menjadi khalifah, ia berpidato, ”Saya bukan lebih baik dari kalian, melainkan sayalah yang paling berat membawa beban.”

Kepemimpinan adalah tanggung jawab yang sangat berat. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Fatimah, istri Umar bin Abdul Aziz, selalu melihat suaminya menangis di masjidnya. Padahal, negara yang dipimpinnya telah benar-benar makmur. Semua rakyat merasa dipenuhi hak-haknya.

Ketika Fatimah menanyakan soal tangis suaminya itu, Khalifah Umar pun mengatakan, ”Saya lagi merenungi nasib rakyat, takut masih ada di antara mereka yang lapar, yang sakit tanpa pengobatan, yang tidak mempunyai pakaian, yang didzalimi, yang terasing, yang tua bangka tanpa ada bantuan, yang miskin dan mempunyai banyak keluarga, dan lain sebagainya di belahan negeri ini. Saya tahu di hari kiamat nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.

Saya takut kalau saya tidak mempunyai alasan yang benar. Karenanya saya menangis.” Umar bin Dur meriwayatkan, suatu hari ia melihat Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang bersedih dan ia pun bertanya penyebabnya. Khalifah Umar menjawab, ”Siapa saja yang berada pada posisi seperti saya pasti akan bersedih. Bayangkan, saya selalu memikirkan bagaimana menyampaikan setiap hak kepada masing-masing rakyat, baik ia minta ataupun tidak.”

Setiap malam, seperti diriwayatkan Atha’, Khalifah Umar mengumpulkan para ulama, duduk bersama-sama, merenung tentang kematian dan hari kiamat. Lalu mereka sama-sama menangis seakan menangisi seseorang yang baru saja meninggal dunia.

Rasa takut akan siksaan Allah di hari kiamat benar-benar terhunjam dalam diri Umar. Dari sinilah kemudian terpancar perilaku kepemimpinannya yang sungguh menyebarkan kesejahteraan bagi semua rakyatnya. Bila Umar berkhutbah di hari Jumat, ia pun selalu mengingatkan kepada jamaah, ”Wahai manusia, perbaikilah apa yang tidak tampak dari perilakumu niscaya yang tampak akan baik dan berbuatlah untuk akhiratmu niscaya duniamu akan cukup.”

Wahib bin Al-Ward menceritakan, ketika sekelompok kerabat Umar datang dan minta tambahan harta, sang khalifah hanya menjawab, ”Saya takut akan siksaan Allah yang pedih bila saya berbuat maksiat.” Dalam riwayat As-Suythi disebutkan, hanya dua tahun lima bulan Umar memimpin, tapi rakyat di seluruh negeri benar-benar menikmati buah keadilan yang ditegakkannya.

Juga disebutkan, sebelum menjabat Umar mempunyai empat puluh ribu dinar. Ketika wafat, ia hanya mempunyai empat ratus dinar. Amru bin Muhajir bercerita, Umar tidak pernah memakai hak milik negara untuk kepentingan pribadi. Hasan Al-Qashab menyebutkan, kesalehan Umar sebagai pemimpin ternyata telah memancarkan rahmat tidak hanya kepada rakyat melainkan juga kepada binatang.

Diriwayatkan, selama kemimpinan Umar, serigala dan kambing hidup berdampingan dalam satu padang gembala. Ketika ditanya bagaimana mungkin serigala itu tidak menyerang kambing, sang pengembala menjawab, ”Bila kepala baik, maka seluruh badan akan baik.”

Semoga bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.